Keripik dan Bakpia

10.27

Aku tersenyum mendengar jawaban ibu penunggu warung makan sesaat setelah kukatakan apa yang telah kumakan untuk menu sahurku. Saat itu aku berada di Jogja, tepatnya warung tersebut berada di depan Kampus UNY--masuk gang kecil,, tak jauh dari jalan besar. Sama halnya seperti warung-warung makan lainnya, tempat itu terbilang sederhana. Hanya ada beberapa baris meja dan kursi dan ditemani suara TV untuk meramaikan suasana. Tapi tak usah kalian tanyakan soal rasa dan aneka menu yang disediakan. Wajar saja, tidak ada yang aneh-aneh, sama halnya seperti warung makan lainnya.

Lalu apa yang membuat ku tersenyum jika tak ada yang beda. Harga..ya harganya.. Senyumanku sesaat merekah karena jumlah lembar uang yang harus aku bayrkan tak sebesar apa yang kubayangkan. Sepiring nasi plus sayur dengan lauk-pauk berupa gorengan (bakwan) 2 buah dan telur, serta es jeruk ternyata hanya menghabiskan Rp 7000. Sementara temanku--makan cukup banayak--sepiring nasi yang menggunung dihiasi sayuan hijau dan pindang serta dua buah bakwan. Tak hanya itu, dua gelas es jeruk pun ia lahap. Kalian tahu berapa yang dibyarkan untuk menu sebanyak itu..

Hanya Rp 11000 ...

Bagi temenku yang memang sudah biasa hidup di Jogja, mungkin bukan perkara yang sulit diterima layaknya diriku. Sepanjang perjalanan pulang ke kosnya, aku masih belum melepas senyum yang terus menggantung pipi. Terbayang kota kecil yang sudah 7 tahun lebih aku diami. Purwokerto yang identik dengan jajanan khasnya keripik ternyata lebih besar biaya hidupnya dibanding kota bakpia ini.

Sama halnya dengan keripik dan bakpia, besaran upah buruh di Purwokerto juga lebih murah jika dibandingkan Jogja. Namun sebaliknya, beban untuk biaya makan utama jauh lebih besar, karena jika kita bandingkan, dengan menu yang sama dan standar warung yang sama, kita akan mengeluarkan isi dompet yang lebih banyak. Mungkin sekitar Rp 30 ribu untuk dua orang.

Sekarang kalau kita coba menelusuri sebab musabab perbedaan harga dua kota tersebut, maka bisa saja akan memakan banyak halaman selanjutnya. Lagian aku juga bukan ahli ekonomi yang punya segudang teori perekonomian. Aku hanya sedang menggalau memikirkan jalan hidup dan tempat ku menghabiskan sisa umurku.

Apa mungkin karena itu juga, masyarakat banyumas lebih akrab dengan mendoan yang memiliki bahan dasar sama dengan keripik. di mana Hampir si setiap warung makan di purwokerto menyediakannnya.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts